Sunday, 21 June 2026
12 December 2020 · 5 menit baca

Tau Kapan Harus Berhenti

Alkisah ada seorang pemuda bertubuh kekar yang melamar di perusahaan kayu, di sana ia bekerja menjadi penebang pohon. Gaji dan tunjangan yang ia terima memotivasinya untuk bekerja lebih gigih, sehingga membuatnya berhasil menebang 20 batang pohon dalam sehari. Hal tersebut membuat sang bos terkesan dan memuji kinerjanya yang bagus itu.

Pujian dari sang bos membuatnya semakin termotivasi untuk menebang lebih banyak pohon lagi. Namun hari demi hari yang terjadi justru semakin sedikit pohon yang mampu ia tebang, dari awalnya 20 pohon menjadi 17, 15, dan terus berkurang setiap harinya. Ia merasa telah kehilangan kekuatannya.

Akhirnya ia menemui sang bos dan menjelaskan tentang kinerjanya. Sang bos hanya bertanya : “kapan terakhir kali kamu mengasah kapakmu ?” ia mengaku tidak punya waktu untuk mengasah kapaknya karna terlalu sibuk dengan pekerjaanya.

Nah di sinilah masalahnya, kapak yang ia gunakan sekarang, tidak lagi setajam hari pertamanya bekerja bukan karna kekuatannya yang hilang.

***

Cerita ini begitu familiar, saya pertama kali membacanya dari buku John Afifi berjudul Hal-hal yang harus dilakukan sebelum umur 40 tahun. Konon cerita ini ditulis oleh Stephen R. Covey, penulis buku best seller, The 7 habits of highly effective people.

Cerita ini cocok untuk direnungkan ketika mendapati kinerja kita yang mulai menurun. Mungkin permasalahannya karna kita lupa untuk mengasah lagi keterampilan yang kita miliki.

Saya pernah bertanya-tanya kepada diri saya, di tahun 2020 ini mengapa saya tidak bisa totalitas menjalankan amanah organisasi saya. Dulu saya sering melakukan terobosan baru dan sering mengerjakan 2-3 hal lain secara multitasking. Tapi mengapa di tahun ini seolah saya tidak lagi berdaya, apakah saya mengalami kondisi burnout (kelelahan) ?

Saya belakangan mulai mencari penyebab dan cara memulihkannya.

Pertama, saya terfokus pada masalah skripsi saya. Dulu di awal bimbingan beberapa kali saya diminta mengganti lokasi penelitian walaupun topiknya tetap dapat saya pertahankan. Hal yang disayangkan adalah.. dulu sebelum judul skripsi saya fix, saya tidak pernah diberikan feedback (review) dari tulisan yang sudah saya buat (bab 1-2) sehingga saya harus memikirkan sendiri apa yang harus saya tulis dan perbaiki. Saya sering mengerjakan skripsi bareng teman saya yang berbeda dosbing, dan walaupun teman saya belum pernah mengisi Sitedi (sistem bimbang online di UNNES) tetapi ia tetap dibimbing secara berkala bahkan teman yang lain sampai dibuatkan grup oleh sang dosen untuk monitoring progress skripsi mahasiswanya. Sementara saya tidak begitu.

Persoalan saya yang harus beberapa kali mengganti lokasi penelitian membawa perubahan signifikan pada substansi skripsi saya, saya sangat kelelahan apalagi harus menjalankan amanah lain di luar akademik. Akhirnya setelah judul saya fix saya mengeluhkan persoalan tadi kepada dosen pembimbing saya, saya hanya berharap draf saya mendapatkan koreksi agar saya bisa menyempurnakannya. walaupun tidak mendapatkan respon positif dari complain saya, setidaknya saya lega berhasil mengutarakannya dan saya tahu bagaimana ke depannya saya harus bersikap. Saya ikhlas dengan realita ini, di luar sepengetahuan dosen saya, saya selalu mendoakan yang terbaik untuknya. Saya tidak pernah melaporkan atau bercerita complain saya ke dosen lain walaupun saya cukup dekat dengan dosen dan beberapa pejabat di fakultas. Karna saya juga harus intropeksi diri, namanya juga proses pembelajaran.

Mohon maaf tulisan ini jadi curcol, persoalan skripsi memang sangat dramatis bagi tiap orang. Cukup memenuhi pikiran saya selama ini. Tetapi saya cukup senang ketika seminar proposal tidak ada revisi di skripsi saya, hanya masukkan yang perlu saya tambahkan. Saya mohon doanya ya agar diberi kemampuan untuk segera menyelesaikan skripsi saya dengan baik. Saya harap tetap dapat berkarya di ranah lain walaupun sedang disibukkan dengan skripsi.

Baiklah sesi curcol selesai.. sebetulnya alasan kedua ini yang lebih relevan dengan cerita penebang pohon tadi. Yakni saya terlalu sering beramanah, bahkan semenjak kuliah semester 1 tidak pernah henti-hentinya setiap semester saya mendapatkan posisi atau jabatan tertentu. Dari ketua tim lomba, komting, ketua panitia kongres, panitia seminar hingga panitia lomba, ketua kkl, ketua dan wakil ketua organisasi fakultas hingga universitas, ketua majelis pertimbangan organisasi, koordinator mahasiswa PKL, wakil kormandes di KKN, sampai ketua kost :v. Mungkin beberapa yang terakhir disebutkan tidak begitu berat tetapi tetaplah semua itu amanah yang menguras tenaga, waktu, dan pikiran. Bahkan di tahun 2020 yang sebetulnya saya sudah berencana untuk vakum dari dunia ormawa (organisasi mahasiswa) masih diamanahi untuk menjabat sebagai kepala departemen dan ketua panitia ramadhan di kampus. Belum demis dari organisasi, saya juga dipercaya oleh beberapa teman di rombel untuk menjadi leader dalam proyek yang saat ini  kami rintis di bidang informasi geospasial.

Kinerja saya pada amanah di tahun 2020 yang mulai menurun, sudah bisa ditebak alasanya. Tadinya saya tidak ingin berhenti dan menyerah. Karna saya melihat banyak figure pemimpin yang amanahnya lebih berat, tidak bosan-bosanya menjabat :v. Tapi amanah yang saya jalani semua adalah amanah sukarela, saya perlu mengalihkan energi saya pada aktivitas yang lain untuk menghidupi diri saya. Saya kira memang perlu behenti sejenak. Apalagi menjalankan amanah yang dari awal sudah saya hindari. Saya memang sempat menolak, tapi qodarullah karna plan A saya belum cukup kuat  akhirnya saya mengiyakan plan B ini, saya di sini belajar kalo saya punya alasan (plan) yang sangat kuat tentu saya sangat mudah menolak amanah.. tapi di sini ternyata saya sedang belajar tentang ikhlas, saya akan menuntaskan amanah ini sampai selesai.

Di lain hal, saya belajar bahwa bukan kegagalan yang membuat orang tidak berhasil.. tapi rasa bosan. Hati-hati dengan rasa bosan. Kamu mungkin bisa sekali dua kali gagal tapi masih bisa bangkit lagi, berbeda jika kamu sudah bosan untuk berjuang kamu tidak akan pernah bisa lagi berhasil.

So, tidak ada kata gagal.. kita hanya perlu menyingkirkan hambatan-hambatanya dan membuat persiapan dulu sebelum beramanah lagi.

Kita boleh istirahat sejenak bukan untuk berhenti.. tapi untuk belajar lagi. Sementara mundur beberapa langkah, untuk mengambil ancang-ancang dan melesat ke depan lebih jauh lagi...

Tapi jangan seperti Steve Job karna ia ingin belajar dari CEO Pepsi yang dianggap lebih hebat justru membuatnya ditendang dari Apple. Saya lupa nama CEO Pepsi itu, menurut cerita ia diangkat jadi CEO Apple agar Steve bisa belajar darinya karna sebenarnya Steve-lah yang sebenarnya ingin dijadikan CEO namun Steve terlalu muda. Eh kok ceritanya malah ke sini hehe..

Although I feel less than optimal menjalankan amanah kepemimpinan di tahun ini. I never give up, saya masih tetap akan berjuang. Memperbaiki amanah saat ini dan bersiap untuk amanah-amanah selanjutnya.

← Sebelumnya Book Review : Jack Ma (Biografi) Berikutnya → Why people 'ghosting' they friend? me :