3 December 2020 · 3 menit baca

GIS Story #3: Jacub Rais, Bapak Geodesi Indonesia

GIS Story #3: Jacub Rais, Bapak Geodesi Indonesia

(Artikel ini ditulis bersama rekan penulis di @gis.review, Navira Wulandari.)

Salah satu ilmuwan inspiratif di bidang Informasi Geospasial dari Indonesia adalah Prof. Jacub Rais, alumnus Geodesi dari Ohio State University yang diakui sebagai Bapak Geodesi Indonesia. Beliau merupakan pendiri sekaligus mantan kepala Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL), yang kini bernama Badan Informasi Geospasial (BIG). Sosok kelahiran Sabang, 18 Juni 1928 ini namanya melanglang buana sebagai pionir disiplin ilmu di berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia — pendiri Universitas Diponegoro, akademi teknik Universitas Semarang, dan jurusan teknik geodesi UGM.

Ia mengawali studi di bidang Geodesi dengan mendapatkan beasiswa di “Universiteit van Indonesie, Fakulteit der Technische Wetenschappen” (sekarang Institut Teknologi Bandung). Setelah lulus dari ITB, ia menjabat sebagai kepala Kantor Jawatan Pendaftaran Tanah (JPT) Semarang. Kemudian berkarir sebagai dosen hingga menjadi guru besar di UNDIP Semarang, lalu diangkat sebagai Deputi Koordinasi Pemetaan BAKOSURTANAL — di lembaga inilah kiprahnya secara nasional mulai dikenal.

Prestasinya di bidang survei dan pemetaan membawanya menghasilkan sebuah karya fenomenal: pemetaan nasional terpadu dengan membangun Unified Geodetic Datum pertama di Indonesia yang memanfaatkan Satelit Doppler pada 1974. Datum ini dikenal secara internasional sebagai ID-74, singkatan dari Indonesian Datum 1974. Datum merupakan patokan untuk menggambarkan sistem koordinat dan menerangkan posisinya terhadap permukaan bumi (Permatahati dkk., 2012:1).

Penggambaran datum geodetik untuk sistem referensi geospasial sudah digunakan sejak zaman kolonial Belanda, dimulai dari penggunaan triangulasi di Pulau Jawa dengan menerapkan posisi tiga basis 114 titik di berbagai puncak gunung pada tahun 1862–1880. Saat itu, datum yang digunakan adalah datum geodetik Ellipsoid Bessel 1841. Triangulasi Pulau Jawa kemudian diperluas hingga membentang ke Pulau Sumatera pada 1883, lalu ke Pulau Bali dan Lombok pada 1912–1918. Selain itu, terdapat pula datum di Pulau Papua dan Pulau Maluku. Akibat keterbatasan alat dan teknologi, datum-datum tersebut tidak berada dalam satu sistem dan memiliki referensi yang berbeda-beda.

Memasuki era Geodesi Satelit di tahun 60-an, kecanggihan teknologi pada masa itu memunculkan sebuah pembaruan: menyatukan sistem referensi dengan memanfaatkan teknologi Satelit Doppler dari AS, yakni Navy Navigation Satellite System (NNSS). Teknologi inilah yang dimanfaatkan BAKOSURTANAL untuk menyatukan seluruh datum di Indonesia dengan membangun ID-74. Datum tersebut masih termasuk kategori datum geodesi lokal karena bersifat toposentris — sesuai bentuk geoid, dengan titik 0 masih di permukaan bumi, berlokasi di Padang, Sumatera Barat. Sementara di tahun 70-an, Eropa dan Amerika telah membuat datum global dengan membangun World Geodetic System, yang kelak digunakan sebagai acuan pada sistem koordinat GPS.

Kiprah lain dari Jacub Rais adalah di bidang toponimi. Bersama Prof. I Made Sandy, ia menjadi perwakilan Indonesia yang memberikan dasar tentang toponimi melalui badan internasional The United Nations Group of Experts on Geographical Names (UNGEGN) yang didirikan PBB. Ia kerap mengingatkan pentingnya memahami istilah lokal (bahasa daerah) yang digunakan dalam penamaan unsur-unsur rupabumi di Indonesia — bukan sekadar untuk dipahami, melainkan untuk diterapkan dalam penamaan toponimi sebagai bentuk ekspresi rasa kebangsaan dan nasionalisme.

Pada masa purnanya, ia masih aktif mendedikasikan keilmuannya dengan menulis makalah dan menjadi narasumber di berbagai forum, baik dalam maupun luar negeri. Maka tidak berlebihan setelah kepergian beliau, Prof. Hasanudin Z. Abidin dari ITB menyebutnya sebagai “Godfather” Geomatika Indonesia.

Perjalanan hidup dan dedikasinya terhadap keilmuan patut menjadi contoh bagi generasi muda Indonesia — karena itulah gis.review memilihnya sebagai tokoh Indonesia pertama yang diulas dalam seri konten GIS Story ini.


Referensi

  1. Permatahati, Anyelir Dita, S. Kahar, L. Sabri. 2012. Transformasi Koordinat pada Peta Lingkungan Laut Nasional dari Datum ID74 ke WGS84 untuk Keperluan Penentuan Batas Wilayah Laut Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat. Jurnal Geodesi Undip, Vol. 1(1): 1–10.
  2. srgi.big.go.id/news/8
  3. academia.edu — Sejarah Sistem Referensi Koordinat di Indonesia
  4. geospasial.info — History Reference System Determination Indonesia
  5. media.neliti.com — Transformasi Koordinat pada Peta Lingkungan
  6. madeandi.com — Mengenang Godfather Geodesi/Geomatika Indonesia

Pertama kali dipublikasikan di Medium pada 2 Desember 2020.

← Sebelumnya GIS Story #2: John Snow, the First Geographical Analysis of Disease Data Berikutnya → Tau Kapan Harus Berhenti
Komentar
via GitHub