Sunday, 21 June 2026
2 April 2020 · 3 menit baca

'PEMOEDA' MELEMBAGAKAN PERJUANGAN

Tampilan buku Prof. Subroto (2015) berjudul : "Indonesia di Tanganmu, Persembahan Pemikiran Bagi Generasi Muda Indonesia Menuju Indonesia 2045" (hlm.13)

Tidak asing bagi kita mendengar adagium arab yang mengatakan “pemuda hari ini, pemimpin masa depan (Syubhanul yaom, rijalul ghad)”, maka tidak heran bila kita menelisik sejarah pergerakan Indonesia di awal abad ke-20, istilah “Pemoeda” menjadi simbol progresif yang menunjukkan peranan besar golongan muda dalam menggagas sebuah entitas politik bernama Indonesia.

Kita bisa melihat tulisan Prof Dr. Subroto (2015) dalam bukunya yang berjudul : Indonesia di Tanganmu, mengajak kita para pemuda untuk merefleksikan bahwa Indonesia adalah negaranya anak muda, ada Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) kaum pergerakan yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” dengan mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Persbureau. Kala itu beliau berumur 24 tahun ketika diasingkan ke Belanda karna tulisan kritisnya terhadap pemerintah kolonial yang tengah merayakan 100 tahun kemerdekaanya atas Prancis.

Adapula dr. Cipto Mangunkusumo ketika masih berusia 19 tahun bersama dua rekannya mendirikan organisasi yang kelak menjadi awal kebangkitan nasional, Budi Utomo. Dalam catatan sejarah, sebelum ia terjun ke dunia politik pahlawan nasional yang berprofesi sebagai dokter ini pernah mendapat penghargaan dari Ratu Wilhelmina atas jasa dan keberanianya dalam membasmi wabah Pes mematikan yang merebak di Malang pada kisaran tahun 1911 berselang hampir seabad sebelum Virus Corona (Covid-19) menjadi pandemi di seluruh dunia termasuk Indonesia saat ini.

Ada banyak nama pemuda dan kiprahnya dalam sejarah mula pendirian bangsa ini, mereka adalah orang-orang yang memiliki kesadaran berorganisasi dan melembagakan perjuangan mereka untuk membangun tujuan dan kesadaran bersama yang diakomodasi ke dalam berbagai organisasi atau harokah. Meskipun didirikan dengan beragam latar belakang dan kondisi tetapi kematangan berpolitik dan berbudaya melahirkan kemampuan dan kemauan mengolaborasikan gerakan yang beragam itu menjadi persatuan misalnya tercermin dalam kongres Pemuda I tahun 1926 di Batavia yang kelak melahirkan konsep Sumpah Pemuda.

Bila kita merenungi kisah perjuangan para pendahulu kita, kita akan menyadari bahwa mereka  telah mewarisi nilai-nilai yang telah mengakar kuat pada masyarakat kita sebagai modal dasar untuk menjadi bangsa yang besar yakni nilai kebersamaan untuk kebaikan bersama.

Menjalani 74 tahun sebagai bangsa yang telah merdeka ini. Maka sebagai pemuda saat ini tentu peran kita adalah mengawal cita-cita dari kemerdekaan yang telah dihadirkan oleh mereka para pendahulu kita. Tugasnya adalah memastikan apakah di 100 tahun kemerdekaan dan seterusnya, kita akan menjadi bangsa yang jaya atau sengsara. Maka di periode inilah menjadi tahun-tahun yang akan menentukannya, the point of no return.

***

Tulisan lengkap dapat anda baca pada Artikel berjudul "22 Tahun Kammi, Refleksi Sepenuhnya Indonesia" di blog Kammi Soshum UNNES. Click here.

Referensi :

Gandring A.S., 2019. Blank Spot, catatan-catatan tentang ekspansi dan inovasi gerakan dakwah. Surabaya : CV Saga Jawadwipa

Subroto, 2015. Indonesia di Tanganmu, Persembahan Pemikiran Bagi Generasi Muda Indonesia Menuju Indonesia 2045. Jakarta : PT Kompas Media Nusantara

← Sebelumnya Truth in the Post-Truth Era Berikutnya → The Way We See The Problem is The Problem Itself