“The way we see the problem is the problem itself”. Cara kita memandang persoalan adalah persoalan itu sendiri.
Saya ingin kembali membagikan sebuah kisah klasik mengenai dua orang yang memiliki sudut pandang berbeda dalam menghadapi persoalan yang sama dan apa yang mereka peroleh akhirnya. Kisah ini saya dapatkan dari salah satu kolom di Tabloid Kontan edisi 8-14 Juli 2019 yang ditulis oleh Ekuslie Goestiandi, seorang pengamat manajemen dan kepemimpinan. Ceritanya yang berkesan membuat saya ingin membagikannya kepada pembaca blog saya.
***
Dikisahkan ada seorang pengusaha yang memiliki dua toko besar yang ramai dikunjungi pelanggan. Pengusaha tersebut sudah cukup tua, ia ingin mewariskan tokonya itu kepada kedua anakanya. Pada akhir hidupnya ia sempat berpesan kepada anak-anaknya. Pesan yang disampaikan yakni: (1) Jangan pernah menagih utang kepada pelanggan, dan (2) Hindarkan diri dari paparan matahari. Usai menyampaikan pesan wasiat tersebut, sang pengusaha pun mengehembuskan nafas terakhirnya.
Di kemudian hari, istri sang pengusaha memanggil kedua anaknya dan menyerahkan kedua toko milik suaminya kepada anak-anak nya itu. Masing-masing mendapatkan warisan untuk mengelola satu toko. Tidak lupa disertai pesan, “ mohon toko-toko ini dikelola sesuai dengan pesan yang diberikan oleh almarhum ayahmu”. Kedua anaknya pun mengangguk takzim, menyambut petuah yang disampaikan oleh sang ibu.
Setelah satu tahun berjalan, sang ibu kembali memanggil anak-anaknya untuk mengetahui kabar dan pertanggungjawaban usaha yang dikelola anak-anaknya itu.
Dengan sedih si Sulung menyampaikan bahwa kondisi tokonya nyaris bangkrut. Barang-barang di toko tak tersedia lengkap, pelanggan menurun drastis, uang kas toko juga nyaris kosong. Ia bahkan meminta izin kepada sang ibu, untuk segera menutup toko yang diwariskan sang ayah kepadanya.
Si Sulung menuding dua “pesan wasiat” sang ayah sebagai biang keladi kebangkrutan tokonya. Petuah pertama yang tidak memperbolehkannya untuk menagih utang kepada pelanggan, membuat utang pelanggan menjadi menumpuk dan menggerus arus keuangan toko. Akibat kondisi keuangan yang terus menipis, pengadaan barang-barang di toko pun menjadi terhambat. Petuah kedua yang memintanya untuk menghindari paparan matahari, membuat sang anak pulang pergi dari rumah ke toko selalu menggunakan sarana angkutan tertutup. Akibatnya, pengeluaran transportasi yang membengkak, dan membebani biaya pengelolaan toko.
Sebaliknya, dengan riang si Bungsu melaporkan kepada ibunya tentang kondisi toko yang dikelolanya. Ternyata, tokonya berkembang pesat. Barang-barang yang dijual semakin lengkap, pelanggan semakin banyak, dan kondisi keuangan juga begitu sehat. Dengan kondisi yang demikian si Bungsu meminta restu kepada sang ibu untuk melakukan ekspansi, dengan membuka toko baru lainnya.
Dengan sumringan si Bungsu menuturkan bahwa dua pesan wasiat sang ayah adalah resep mujarab kemajuan tokonya. Petuah pertama yang tak memperbolehkannya menagih utang kepada pelanggan, membuatnya hanya menjual secara cash kepada pelanggan. Tak ada transaksi pembelian yang dilakukan dengan cara berutang. Dengan demikiam, kas toko terjaga dengan baik dan aliran keuangan terkelola lancar. Tak ada kesulitan dalam pengadaan barang, yang membuat barang-barang di toko selalu tersedia lengkap. Pelanggan senang menyambangi toko, karena barang yang ingin dibeli senantiasa tersedia. Sementara petuah kedua yang memintanya untuk menghindari paparan matahari, membuat dirinya berjalan kaki ke toko sebelum matahari terbit dan pulang ke rumah setelah matahari terbenam. Akibatnya, tak ada uang transportasi yang musti dikeluarkan dan menjadi beban toko. Bahkan, waktu operasi toko pun menjadi lebih panjang.
***
Dari cerita di atas, mengajarkan kita untuk selalu mengambil sudut pandang positif sehingga dapat melahirkan sikap dan perilaku positif. Dengan sudut pandang yang berbeda, maka persoalan yang sama ternyata dapat menuai hasil yang sama sekali berbeda.
Dalam aksara cina, krisis disebut 危 机 (weiji). Frasa tersebut terdiri dari dua kata yakni, Wei yang berarti resiko, dan Ji yang berarti peluang. Dengan demikian, krisis dapat dimaknai sebagai sebuah bahaya namun juga dapat bermakna sebagai peluang.
Saat ini kita juga dihadapi dengan kondisi krisis, dimana terjadi perubahan besar-besaran dalam pola aktivitas kita. Mobilitas juga semakin terbatas setelah diterapkan peraturan PSBB di Indonesia. kegiatan belajar dan mengajar sepenuhnya dilakukan di rumah, sementara sebagian orang juga bekerja dari rumah. Kondisi tersebut tentu memaksa kita untuk cepat beradaptasi agar mengubah cara kerja konvensional ke digital (online).
Kita hidup di era yang memaksa kita untuk melakukan terobosan agar tetap survive menghadapi dunia yang kompetitif. Sayangnya tidak semua elemen masyarkat dan perusahaan siap dengan kondisi ini, misalnya dengan menurunnya permintaan pasar terhadap produk tertentu kemudian berimbas pada masalah produksi dan pengurangan pekerja terutama bagi mereka yang masuk dalam sektor informal. Sederhananya ketika daya beli masyarakat menurun maka akan berimbas pada kelangsungan sejumlah unit usaha atau industri. Ketika suatu perusahaan tidak dapat survive praktis akan berimbas pada pekerja di bawahnya hingga perekonomian suatu wilayah bahkan negara.
Sebetulnya kita sudah lama dituntut untuk melakukan transformasi digital, jauh sebelum Pandemi Covid-19 ini terjadi. Dimana kita mengenal apa yang disebut dengan era distrupsi. Perusahaan atau individu pelaku usaha yang telah memanfaatkan teknologi digital dan memiliki 'terobosan' mampu mengungguli usaha lain yang masih konvensional. Hal tersebut jika dibiarkan akan membuat gap yang semakin besar dan perusahaan tertinggal akan mati ketika ia tidak lagi menghasilkan profit. Mungkin jika tidak terjadi Pandemi Covid-19 ini, akan masih banyak orang yang abai akan pentingnya kompetensi di bidang teknologi digital. Justru kondisi ini membangunkan orang dari tidurnya agar secara sadar meningkatkan kapabilitasnya sehingga mampu mengikuti persaingan global.
Saya membicarakan tentang perusahaan atau industri dalam tulisan ini karena memperoleh informasi di sekitar saya (Semarang) tentang pekerja yang dirumahkan semenjak Pademi Covid-19 terjadi. Apabila tidak dapat survive dengan kondisi tersebut maka persoalan itu akan berdampak signifikan terhadap kehidupan mereka. Sebetulnya saya juga melihat persoalan ini telah lama, misalnya toko pakaian milik ibu saya yang dikelola oleh kakak saya terpaksa ditutup karena sudah tidak profit. Tentunya karena masyarakat semakin berminat pada online shop dan berdirinya department store (mall) di kota saya (Sampit, Kalimantan Tengah) yang telah merebut market kami. Kakak saya kemudian bekerja di Cake & Bakery Shop pada shift pagi untuk mendapatkan penghasilan tambahan karena semenjak ayah saya meninggal ia adalah salah satu tulang punggung keluarga. Tetapi karena bekerja di Cake & Bakery Shop itu dia justru mendapatkan ilmu mengenai produksi hingga mempelajari marketing pada bisnis tersebut. Sehingga belakangan dia mulai menjual produknya sendiri sembari masih bekerja pada orang lain, walaupun usahanya masih dalam skala kecil. Saya punya keinginan untuk membranding usahanya, membuat terobosan mulai dari packaging hingga online marketing, tentunya dengan belajar, dan didukung keterampilan serta pengalaman yang saya miliki. Selama ini riset dan studi saya juga cukup banyak berkaitan dengan bidang Pariwisata dan Ekonomi. Saya paham betul bagaimana posisi UKM cukup sentral di bidang tersebut. Kesempatan ini adalah cara pragmatis saya menerapkan keilmuan sekaligus bereskperimen untuk membuktikan konsep ekonomi yang saya pelajari.
Charles Darwin, bapak Biologi konsep “survival of the fittest” dalam seleksi alam pernah berkata :
“Bukanlah spesies yang paling kuat atau paling cerdas yang mampu survive, tapi mereka yang paling mampu beradaptasi terhadap perubahan (yang mampu bertahan)”
Kembali pada topik awal artikel ini, maka kita harus mampu menyikapi kondisi saat ini dengan sudut pandang positif yang akan membantu kita untuk dapat beradaptasi.
Saya sendiri sebagai mahasiswa dan aktivis, tentu terganggu dengan situasi yang mengharuskan saya melakukan sebagian besar aktivitas saya dari rumah #wfh karna mau tidak mau harus merevisi plan yang sudah dibuat dan didiskusikan bersama rekan-rekan organisasi. Tetapi situasi selama pandemi ini justru memfasilitasi saya untuk melakukan banyak hal-hal lainnya. Misalnya saya telah mengikuti 7 kursus online bersertifkat, mengikuti workshop online di berbagai platform untuk mengimprove skill dan insight saya di bidang pemetaan dan geografi secara umum, mengikuti kuliah online di course.edx yang semuanya saya dapatkan secara free. Termasuk mengikuti kegiatan sosial sebagai relawan ACT dan organisasi Ekstra dalam pembagian donasi Covid-19. Bahkan kegiatan organisasi yang ikut terganggu tadi justru membawa kami untuk membangun relasi dengan kampus-kampus lain dalam forum nasional untuk mendiskusikan mengenai program kerja Ramadhan LDK. Tentu yang terakhir ini tidak akan terjadi pada kondisi normal

Tentu semua ada hikmahnya, dan setiap orang akan merespon kondisi ini berbeda-beda dan sikap kita menentukan hasil apa yang akan kita peroleh. Coba kita ingat sejarah, ketika terjadi lockdown para pemikir besar Inggris justru melakukan pekerjaan terbaik di situasi tersebut. Misalnya Isacc Newtoon yang menjadi manusia paling produktif selama ia dikarantina di rumah ketika terjadi wabah Bubonic di Inggris, saat-saat itulah ia menemukan teori gravitasi, mengembangkan teori kalkulus hingga optic. Juga William Shakespeare ketika wabah menjalar dan teater-teater ditutup dia memanfaatkan waktunya untuk menulis. Serta banyak tokoh fenomenal lainya, seperti Edvard Munch dengan lukisan terkenalnya. Bal Gangadhar Tilak dengan kampayenya yang menginspirasi Mahatma Gandhi dan disebut sebagai “The Maker of Modern India” yang dipicu karena wabah.
terakhir, mari kita mengingat janji Allah dalam ayat favorit saya, QS. Al Insyirah : 6, yang berbunyi :
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”