Di usia 20 tahunan ini, mungkin idealnya kita sudah cukup berdamai dengan diri kita dan tidak perlu lagi mempertanyakan apa itu kebenaran. Tapi kalo masih mempersoalkan itu, apa jangan-jangan kita belum akil baligh (wkwk). Iya, dalam hukum Islam, ada istilah ‘Baligh’ yang secara bahasa (Arab) artinya ‘sampai’ maksudnya ‘sampai pada usia yang telah dewasa’. Kalo dalam bahasa Latin ada istilah pubes (Pubertas) yang berarti 'usia menuju kedewasaan'. Orang dikatakan baligh kalo sudah bisa memahami dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Masa pubertas ini dialami bagi laki-laki di usia sekitar 15 tahun pada umumnya, ditandai dengan perubahan pada fisik tubuhnya.
Tapi pernah gak sih, masih terlintas di benakmu pertanyaan tentang apa itu kebenaran, sedang usia udah terbilang tua, hehe.. mungkin dapat saja dimaklumi karna sering kali kita mengukur kebenaran itu dari banyaknya suara yang mengatakan sesuatu itu benar, lalu kita merasionalkannya. Saya pernah mendengar istilah ‘kebenaran numerik’ benar yang hanya secara kuantitatif, sayangnya saya belum mendapatkan literature yang cukup tentang istilah itu sehingga sulit menjelaskannya. Tapi mungkin kamu tidak asing dengan istilah ‘era post-truth’ inilah era yang tengah kita lalui sekarang. Era pembenaran bukan kebenaran. Memang ini sifatnya politis, lihat saja di tahun-tahun politik kemarin, betapa banyak beredar berita-berita hoax sehingga wajar bila usiamu udah tua sekalipun :v tapi masih mempertanyakan apa itu kebenaran, karna efek dari era post-truth tadi.
Saya pernah menyinggung sedikit tentang kebenaran dalam artikel saya sebelumnya (click here). Di situ saya mengutip dari kajiannya Pak Fahrudin Faiz, bahwa dalam filsafat Islam (Ilmu Kalam) salah satu parameter kebenaran adalah Syukunun Nafs yakni ketenangan jiwa. Saya jadi teringat dengan salah satu Hadis Rasulullah dalam Arbain Nawawi, hadis nomor ke-27 :
Dari Wabishah bin Ma’bad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, ‘Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan dan dosa?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebajikan itu adalah apa saja yang jiwa merasa tenang dengannya dan hati merasa tentram kepadanya, sedangkan dosa itu adalah apa saja yang mengganjal dalam hatimu dan membuatmu ragu, meskipun manusia memberi fatwa kepadamu.’” (HR. Ahmad dan Darimi, Hadits hasan)
Saya mengkutip Hadis yang Hasan ya.. (tidak perlu diragukan kredibilitasnya), ada yang menarik dari matan hadis ini, coba kamu perhatiin.. sahabat Wabishah ini datang kepada Rasulullah dan belum mengajukan pertanyaannya, tetapi Rasulullah udah tau beliau mau nanya tentang apa :v dan Rasulullah tidak sekedar menerka-nerka, karna Wabishah bilang ‘iya’ membenarkan Rasulullah. Dari hadis ini kita belajar tentang bukti kenabian dari Rasulullah Muhammad (Shollu Ala Nabi)…
Nah, kebajikan dan kebenaran disini mirip ya berdasarkan parameternya, syukunun nafs (ketenangan jiwa). Tetapi itu hanyalah salah satu parameternya.
Saya ingin berbagi kisah klasik dari China, berhubung saat ini masih nuansa perayaan tahun baru Imlek (saat artikel ini diposting) yang mungkin relevan dengan pertanyaan kita di atas.
Begini ceritanya …
Di antara orang-orang yang hidup dekat perbatasan, ada seorang pria tua dan bijaksana yang menjalani hidup yang nyaman dan tenang. Suatu hari, tiba-tiba saja kudanya kabur dan lari ke wilayah orang bar-bar. Semua orang di desa jatuh iba kepadanya. Tetapi pria tua itu berkata,”Apa yang membuat kalian berpikir ini bukan hal yang baik ?”
Beberapa bulan kemudian, kuda pria tua itu kembali, dan seekor kuda jantan bar-bar yang berkualitas tinggi menemaninya. Tetangga-tetangganya mengucapkan selamat kepada si pria tua. Tetapi ia berkata, “Apa yang membuat kalian berpikir ini bukan hal yang buruk?”
Cucu laki-laki pria tua itu sangat senang menunggang kuda baru. Tapi suatu hari, dia jatuh sewaktu sedang menunggang kuda hingga tulang pinggulnya patah. Semua orang lagi-lagi jatuh iba kepada pria tua itu. Tapi dia berkata: “Apa yang membuat kalian berpikir ini bukan hal yang baik?”
Setahun kemudian, sekelompok besar orang barbar menyerbu wilayah perbatasan. Semua pria desa membawa busur dan panah mereka dan pergi berperang, Sembilan dari sepuluh orang tewas. Tetapi karena pincang, cucu laki-laki pria tua itu tidak diwajibkan pergi berperang. Nyawanya terselamatkan.
***
Cerita ini saya kutip dari buku (Auto)biografi Ping Fu (Chinese-American entrepreneur) pendiri perusahaan pengembangan perangkat lunak 3D Geomagic. Dalam bukunya yang berjudul Bend, Not Break (Menekuk tanpa menjadi Patah) halaman 229-230 ia mengatakan sewaktu kecil ayahnya menyuruhnya menghafalkan kisah-kisah klasik China dan cerita di atas adalah salah satunya. Di kemudian hari cerita-cerika klasik China seperti ini menjadi pegangan hidup mereka.
Seorang Buddha pernah mengajukan pertanyaan yang terkenal, “siapa yang bisa mengatakan apa yang baik atau buruk ?”
Bahwasanya bisa saja seseorang mengambil pilihan-pilihan yang buruk tetapi justru itu menjadi keputusan-keputusan baik. Dan belajar dari cerita tadi saya teringat lagi dengan salah satu dalil dalam Quran Surah Al-Baqarah. Allah berfirman :
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (Al-Baqarah: 216)
Baik menurutmu, belum tentu menurut Allah baik untukmu
Membaca ayat itu, mungkin menjadi pertanyaan bagimu “Bagaimana saya tahu bahwa ada keburukan dibalik kesenangan yang nampak ?” atau sebaliknya. Kamu sendirilah yang harus menemukan jawabanya. tapi percayalah bahwa Allah punya skenario terbaik untuk hidupmu.
“Baik atau buruk bukanlah soal hitam dan putih, dalam hidup, kita secara berkala dihadapkan pada nuansa abu-abu.” (Ping Fu)
