
Beberapa waktu yang lalu saya membaca artikel berita di Harian Kompas (15/02/2021) mengenai terbatasnya talenta digital di Indonesia. SDM kita rupanya belum mampu mengimbangi pesatnya kemajuan teknologi saat ini. Banyak Startup yang berkembang namun kesulitan mencari pekerja digital. Menurut data dari artikel tersebut kebutuhan talenta digital di Indonesia adalah sebesar 600.000 orang namun yang tersedia hanyalah 100.000 orang per tahun.
Lalu, pertanyaan yang muncul di benak saya adalah bagaimana solusinya ?
Ketika saya membaca sejumlah literatur, saya menemukan fakta yang berhasil mencuri atensi saya.
'Indonesia < India'
Saya membaca sebuah laporan yang diterbitkan oleh lembaga riset Startup Genome berjudul 'The Global Startup Ecosystem Report 2020 (GSER 2020)' Laporan tersebut memuat ranking 'top 100 cities' dimana ekosistem Startup 'sedang tumbuh', menariknya Jakarta menempati peringkat kedua di dunia dalam list tersebut, mengalahkan kota metropolitan lainnya seperti Madrid, Barcelona maupun Kuala Lumpur. Lalu kota mana yang berada di peringkat pertama ? jawabannya adalah Mumbai (India). Hanya selisih 1 poin saja antara Jakarta dan Mumbai dalam list tersebut. Kriteria dimana Mumbai lebih unggul dari Jakarta adalah 'Talenta Digital'.

Laporan tersebut memanglah berskala Kota bukan Negara.
Namun fakta ini membawa saya pada fakta-fakta lainnya tentang bagaimana Negeri Bollywood ini dapat memproduksi banyak talenta-talenta unggul di bidang IT. Seperti yang mungkin sudah kamu tahu, bahwa beberapa perusahaan teknologi di dunia memiliki CEO yang merupakan orang atau keturunan India, di antaranya adalah CEO Google/Alphabet (Sundar Pichai), Microsoft (Satya Nadella), Adobe (Shantanu Narayen), IBM (Arvind Krishna), and many more. -Dari nama-namanya saja kamu sudah bisa tebak kalau mereka adalah orang India. Fakta ini setidaknya akan membuat kita memiliki sentimen positif tentang perkembangan IT di sana.
Saya pikir apabila negara India mempunyai banyak diaspora yang unggul di bidang IT maka transfer ilmu pengetahuan ke negara mereka akan jauh lebih cepat dibanding negara kita.
Pertanyaan selanjutnya, mengapa India bisa ?
Sebelumnya menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin membagikan cerita dari Pa Onno W. Purbo, agar tidak terlalu mengglorifikasi India. Beliau adalah salah satu pakar IT dari Indonesia. Simak video berikut ini.
-dari video di atas, salah satu poinnya adalah India memang lebih unggul dari Indonesia dari segi 'kuantitas'. Tapi dari segi kualitas Indonesia juga tidak kalah dari India. Namun bukan berarti kita perlu berbangga diri, karna ini hanyalah satu kasus. Masih ingat dengan berita tentang perusahaan Tesla di awal tahun ini ?
ya, pemerintah kita begitu optimis kalau perusahaan Elon Musk itu akan memilih Indonesia untuk membangun pabriknya. Tetapi pada akhirnya India-lah yang terpilih. Itu menggambarkan bagaimana negara ini memiliki daya tawar lebih dibanding negara kita.
Saya kemudian menemukan fakta tentang Bangalore, sebuah kota di India yang disebut-sebut sebagai Silicon Valley-nya India. Di Kota itu banyak perusahaan global membuka kantor mereka, termasuk yang akan dibangun adalah pabrik Tesla tadi. Rupanya Go-Jek juga memiliki kantor di sana yang mempekerjakan banyak Programmer India untuk mengembangkan aplikasi mereka.
Kenapa memilih India ?
Melansir dari situs CNBC Indonesia, Mantan Menteri ESDM, Arcandra Tahar menduga bahwa perusahaan asal Amerika tersebut mencari kota dengan ekosistem yang hampir serupa seperti Silicon Valley, dimana kantor pusat mereka berlokasi. Ekosistem yang dimaksud adalah tersedianya SDM IT yang terampil, chip teknologi yang mutakhir, dan adanya investor. Maka India punya Bangalore, di samping mampu menyuplai talenta digital yang terampil, mereka juga menawarkan harga yang lebih kompetitif (red. mau dibayar murah).
Mari bandingkan pendapatan per kapita India dan Indonesia berikut.
-dengan kurs dollar saat ini yang berkisar >14k rupiah per dollar maka hitungan kasar dari data di atas adalah Indonesia memiliki rata-rata pendapatan per kapita per bulan sebesar 4,6 juta rupiah sementara India sebesar 2,4 juta rupiah. Maka setidaknya dapat diasumsikan bahwa tenaga kerja di sana dapat dibayar lebih murah daripada tenaga kerja di Indonesia.
Kedua negara ini memang memiliki sejumlah problematika yang hampir serupa. keduanya juga merupakan dua kekuatan ekonomi yang sedang bertumbuh di Asia. India bahkan berambisi untuk merebut hegemoni Tiongkok di kawasan ini. Lantas bagaimana kendala yang dihadapi negara ini dan apa solusi yang mereka lakukan ?
1.Digital divide
Determinan pertama dan yang paling ingin saya mention dalam artikel ini terkait pengembangan sektor IT adalah tentang akses teknologi. Bukan hanya akses terhadap internet, melainkan juga kepemilikan akan perangkatnya (material access).
Sedikit cerita, saya baru mendapatkan pelajaran TIK ketika SMP dan saya masih ingat saat itu hanya ada beberapa anak di kelas yang mempunyai 'laptop' karna barang ini masih tergolong mewah (waktu itu). Beruntung sejak saya SD warnet atau warung internet sudah cukup menjamur di kota saya, sehingga saya sudah familiar dengan perangkat komputer. Bayangkan apabila saat itu kita tidak punya akses terhadap komputer, materi apakah yang akan dimuat dalam pelajaran pertama TIK SMP ? (how to turn on a computer ? whattts..)
Anak zaman sekarang lebih progresif, tidak sedikit ada yang sudah belajar satu bahasa pemrograman sejak SMP. Bahkan di Singapura, coding adalah pelajaran wajib bagi anak kelas 4 SD di sana. Namun di Indonesia akselerasi literasi teknologi ini hanya mampu dijangkau oleh masyarakat tertentu, masih terbatas dan sangat terbatas. Mari kita lihat potret kesenjangan digital (digital divide) di Indonesia melalui data BPS dalam publikasinya yang berjudul 'Statistik Telekomunikasi Indonesia (2019)' berikut.

Data di atas tidak sekedar menunjukkan kesenjangan digital antara masyarakat kota dan desa tetapi yang juga menjadi perhatian saya adalah dari total penduduk Indonesia hanya 20,05% saja yang punya akses komputer. Ini akan menjadi threat bagi pemerintah dalam menciptakan talenta digital di Indonesia.
lalu bagaimana dengan India ?
Menurut hasil Survei Nasional India (NSO, 2020) rata-rata kepemilikan komputer di perkotaan India adalah sebesar 23% dan di desa 4% artinya digital divide-nya lebih parah dari kita. Walaupun demikian yang menjadi pertanyaan adalah ada berapa kota di India ?
-Untuk kota dengan penduduk lebih dari 1 Juta orang (wilayah metropolitan), Indonesia hanya memiliki 12 kota dengan kriteria tersebut. Sementara India memiliki 40 kota. Semakin banyak Kota diasumsikan semakin banyak pusat kegiatan di sektor jasa dan perdagangan. -dan ingat populasi India adalah 4 kali lebih besar dari Indonesia.
Negara kita dan India memang sama-sama mengalami masalah digital divide, lalu bagaimanakah cara pemerintah di sana mengatasinya ?
**(dengan alasan tertentu, untuk saat ini tulisan selengkapnya tidak saya publikasikan di blog ini)**

