Sunday, 21 June 2026
17 May 2021 · 5 menit baca

Membangun sentimen positif tentang Indonesia

Wajah polos ketika Maba-Semester 2-2017
(KKL 1 Geografi di Parangtritis Geomaritime Science Park)

Sewaktu duduk di bangku Sekolah Dasar, saya sangat suka membaca majalah. Salah satu yang menjadi majalah favorit saya adalah majalah XY Kids. Majalah anak-anak terbitan Gramedia Grup itu tetap saya baca hingga tahun-tahun pertama di bangku SMP.

Ada satu edisi yang begitu berkesan buat saya, karna berhasil membangun sentimen postif saya terhadap Indonesia. Edisi yang saya maksud adalah edisi khusus tahunan 2011 yang bertajuk 'Bangga Indonesia!'.

Karna majalah saya berada di rumah orang tua saja, saya menggunakan gambar yang ditemukan di Internet. (Sumber:http://mediaofindonesia.blogspot.com/2012/06/majalah-anak-anak.html)

Edisi itu memuat banyak informasi tentang kekayaan Indonesia yang patut dibanggakan dan diakui dunia. Tidak hanya alamnya namun juga produk-produk kebudayaan dan industri yang berhasil merambah pasar internasional. Saya terkesan setelah membacanya apalagi ketika mengetahui bagaimana hebatnya kekuatan militer dan posisi politik Indonesia yang begitu strategis sejak masa presiden Indonesia pertama. Bangga! saya betul-betul bangga dengan Indonesia dan sejak saya itu saya percaya bahwa Indonesia bisa bersaing dan unggul di tingkat dunia dalam bidang apapun karna telah ada anak bangsa yang berhasil membuktikannya.

Lalu bagaimana dengan sekarang ?

Saya kira sentimen positif itu tidak berubah, hal ini mungkin karena sejak SD hingga awal SMA saya hanya mengikuti satu ekskul yaitu Pramuka yang selalu mendorong untuk memiliki karakter patriotik.

Oleh karenanya hingga saat ini saya suka dengan diskusi-diskusi yang sekalipun menglorifikasikan Indonesia selagi didukung dengan data-data yang aktual dan kredibel.

Terakhir sebelum lebaran kemarin, saya sempat berdiskusi dengan seorang teman sekaligus kating saya di jurusan Geografi. -dari topik yang random kemudian mengarah pada isu teknologi. Saya ingat dalam pembicaraan itu, teman saya mengatakan bahwa Indonesia tidak mungkin mampu mengejar ketertinggalannya di bidang teknologi bahkan dengan India saja kalah.

Karna kami berdua dari jurusan Geografi maka tidak ketinggalan juga untuk membahas teknologi GIS dan remote sensing. Saya menanggapi sentimen negatif tadi dengan menceritakan hal positif bahwa Indonesia punya anak bangsa yang menjadi professor dan mengajar di kampus Jepang (Chiba University) dan temuannya di bidang remote sensing telah banyak yang dipatenkan.

Namun saya tidak menyangka dengan reaksi teman saya ini. -dengan sinis ia mengatakan bahwa apa yang saya katakan itu adalah hoax. Ia tidak percaya dengan adanya professor itu paling-paling professor gadungan katanya sambil mengkaitkan dengan kasus Anji (Musisi) yang mewawancarai professor abal-abal di kanal YT-nya.

Saya heran, bagaimana bisa professor yang saya ceritakan itu hoax padahal jelas saya pernah ikut webinar dari Geografi UGM yang mengundang professor tersebut sebagai narasumber. Bahkan di sosial media saya berteman dengan akun facebook beliau. Saya kemudian mengatakan bahwa beliau ini bahkan punya laboratorium sendiri yang menggunakan namanya di kampusnya itu. Lalu, lagi-lagi teman saya berujar.. paling hanya laboratorium kecil, begitulah katanya.

Maka saya tidak sanggup lagi melanjutkan diskusi ini, bahkan saya geram rasanya (hehe) mau mengatakan apalagi, teman saya ini tetap saja tidak akan percaya atau terus meremehkan (underestimate). Saya heran bagaimana bisa ada orang yang begitu underestimate dengan kemampuan anak bangsa sendiri, dan masih sering kita jumpai teman kita yang lainnya bersikap seperti ini. Inilah alasan saya membuat postingan kali ini.

Professor yang saya maksud tadi adalah  Josaphat Tetuko Sri Sumantyo. saya melansir dari swa.co.id bahwa beliau adalah kepala Center for Environmental Remote Sensing (CEReS), Chiba University, Jepang. Beliau juga memiliki Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL), laboratorium paling lengkap di Jepang dan bahkan di dunia untuk pengembangan microwave remote sensing technology untuk penginderaan jauh di permukaan bumi dan planet lain.

Tentu saja masih banyak orang-orang Indonesia hebat selain beliau yang mempunyai reputasi di tingkat global. Untuk bidang akademik, bukan hal baru lagi ada orang Indonesia yang menjadi dosen di kampus luar negeri. Misalnya Gus Nadhir yang mengajar di Fakultas Hukum Universitas Monash Australia dan juga telah menyandang gelar professor. Ada juga Ismail Fajrie Alatas, assistant professor di New York University yang juga suami dari politis PSI Tsamara Amani. Dua professor yang saya mention terakhir tadi sama-sama memiliki latar belakang religius dan acap kali diundang menjadi narasumber oleh media-media Indonesia ketika menyangkut isu agama. Jika teman-teman pembaca menyukai isu ini mungkin tidak asing dengan dua nama di atas, tapi kalaupun tidak, tidaklah masalah, mengapa harus kenal ? (betul).

Seperti judul postingan ini dan kasus teman saya tadi. -yang menjadi pertanyaan saya adalah mengapa orang Indonesia mudah meremehkan kemampuan anak bangsa ?

Saya pikir salah satu determinannya adalah informasi yang kita serap, -yang mudah sekali memengaruhi sentimen kita. Itulah mengapa tulisan ini diawali dengan memori saya tentang majalah favorit saya ketika kecil tadi.

Kita sering disuguhi oleh media dengan berita-berita negatif, menggambarkan seolah kacaunya negeri ini.

Tidak ada yang salah dengan media, karna mereka menyampaikan realitas negeri ini. Tinggal kita yang perlu memilih mau mengkonsumsi berita yang mana. Terkadang kita juga perlu skeptis.

Tapi media juga dapat dikatakan salah apabila tidak mengkonfirmasi isu dan mengkajinya secara mendalam, misalnya kasus Anji tadi.

Lalu apakah yang salah hanya media dan kita saja ? tidak! semua bermula dari newsmaker-pelaku pemberitaan. Tidak akan ada berita kalau tidak ada yang membuat sensasi atau prestasi.

Saya baru tahu bahwa dulu pernah ada orang Indonesia yang disebut-sebut sebagai next Habibie. Media sempat memuji-mujinya karna prestasinya yang luar biasanya dan ternyata hanyalah kebohongan.

https://www.youtube.com/watch?v=hreN-fMnGw4
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=hreN-fMnGw4

Mungkin kasus di atas adalah salah satu contoh pemberitaan yang membuat kita akhirnya underestimate terhadap berita-berita tentang prestasi anak bangsa. Saya juga benar-benar heran mengapa ada orang yang berani-beraninya membuat kebohongan publik begitu. (parah!)

Kita tidak perlu dilema, apakah harus membangun sentimen positif atau negatif tentang Indonesia. Kita hanya perlu check & recheck mengenai kebenaran berita yang kita terima. Tidak mudah percaya, tapi tidak perlu sampai menutup telinga hingga enggan menerima informasi dari orang lain.

Bagi saya tetaplah penting selalu membangun sentimen positif tentang Indonesia. Bagaimana kita bisa berharap akan muncul teknologi hebat dari seorang yang tidak percaya bahwa Indonesia bisa menciptakan teknologi hebat. -yang pasti teknologi itu tidak akan lahir dari orang itu.

Karna ketika kita meragukan Indonesia, kita sedang meragukan diri kita sendiri. karna kita Indonesia.

Saya yakin Indonesia Bisa, Kita bisa!

← Sebelumnya Indonesia versus India Berikutnya → Realita Kita