Sunday, 21 June 2026
4 January 2021 · 4 menit baca

Why people 'ghosting' they friend? me :

('curcol' alert !) : mungkin ini salah satu tulisan saya yang 'tidak perlu' kalian baca

Apa kalian pernah puasa medsos ? kira-kira berapa lama sih kalian bisa bertahan ?

Saya kira kalo memang berkomitmen untuk puasa medsos mungkin tidak masalah bila berhari-hari tidak memegang smartphone. Tapi bagaimana jika itu dilakukan karena terpaksa ?

Nah mau curhat ya :v. jadi beberapa hari ini bahkan mungkin terhitung sudah satu bulan, saya tidak menggunakan whatsapps lantaran masalah berantai yang saya alami sejak bulan November (this is why people think I'm 'ghosting').

Di bulan November saya kehilangan handphone ketika makan siang di sebuah RM. Padang dekat kampus saya. Saya baru tersadar ketika sampai kost bahwa handphone itu tidak ada di tas. Saya sempat panik sebab handphone itu sebetulnya milik kating saya yang dipinjamkan kepada saya ketika tablet saya sedang di service. Selama beberapa bulan saya menggunakan handphone itu untuk media sosial terutama WA.

Beruntung tablet lama saya itu masih bisa digunakan. Tapi namanya tablet tua, tidak lama kemudian tablet itu ngedrop kembali untuk kesekian kalinya. Alhasil saya tidak bisa menggunakannya lagi. (walaupun saat ini sedang diservice lagi)

Beruntung yang kedua, saya masih punya hp android lama yang masih bisa digunakan. Hp android itu pembelian ayah ketika saya hendak berangkat ke Lombok untuk olimpiade sains sewaktu SMA. Hp legend ini masih bisa digunakan untuk WA dan medsos lainnya. Lagi-lagi namanya HP tua, Hp ini juga ikut-ikutan bermasalah dan akhirnya tidak bisa digunakan.

Maka selama satu bulan ini saya jarang sekali menggunakan media sosial. padahal bisa dibilang selama ini saya cukup ketergantungan khususnya pada WA lantaran platform ini adalah the one and only yang digunakan orang-orang di kontak saya untuk menghubungi saya dan sebaliknya.

akhirnya saya lost kontak dengan mereka.

Tapi saya masih punya FB dan IG yang bisa dibuka di Laptop, namun tentu saja feel nya beda. lagian hanya mereka yang benar-benar urgent saja yang menghubungi saya via FB atau IG.

satu-satunya media yang bisa saya gunakan untuk update postingan adalah blog ini, sebuah blog yang belum saya publikasikan secara umum kepada teman-teman saya :v. like an arsip pribadi jadinya.

Semenjak "terpaksa" puasa medsos begini. saya menyadari bahwa sulit sekali rasanya hidup tanpa adanya interkasi dengan orang lain. apalagi belakangan ini saya mulai jarang berkumpul dengan teman-teman lantaran mengejar target penulisan skripsi. Hari-hari dihabiskan untuk menulis, membaca, belajar buat nambah insight, belajar bahasa inggris, dan sedikit hiburan.

Kalaupun dalam seminggu ada setidaknya dua kali saya menghadiri kajian agama, itupun tanpa teman dan saat bertemu orang-orang di sana tak ada obrolan sekalipun.

Benar-benar minim interaksi. walaupun sebenarnya saya menikmatinya (saya pikir untuk saat ini tanpa medsos akan membuat saya fokus pada skripsi). tapi lama kelamaan jiwa saya ingin memberontak. saya tidak bisa terus-terusan begini.. hehe

kalo beberapa waktu yang lalu saya masih aktif membuat tulisan, riset, dan organisasi. Sekarang karna mengejar target. saya benar-benar fokus dan meninggalkan sementara kegiatan-kegiatan tersebut.

tapi rasanya saya seperti kehilangan teman. hidup sendiri, bersama laptop di kamar seorang diri. benar-benar ironis. lantaran hanya ingin fokus, jiwa saya yang justru terganggu. benar-benar 'social' distancing namanya.

untuk sementara waktu, saya memang harus menghabiskan banyak waktu sendirian. fokus saya tidak boleh terdistrupsi. salah dua treatment yang saya lakukan untuk kejiwaan saya adalah ke toko buku dan kajian agama. mungkin menulis blog ini adalah salah tiga nya..

tapi terus terang semuanya tidak cukup efektif. sebagai makhluk sosial kita memang butuh interaksi lebih. tidak cukup bila sekedar texting.

hei kawan-kawanku, apa kabar kalian ?? hehe..

Sulit dibayangkan bila hidup sendiri. manusia butuh partner menjalani hidup, butuh keluarga butuh sahabat. itu mungkin yang mendorong saya senang berorganisasi atau mengikuti komunitas. Tapi kalaupun saat ini memang harus sendiri, kita masih punya Tuhan yang selalu ada untuk kita. jangan khawatir.

Entah kapan pandemi ini akan berakhir, semoga kita bisa survive dan adaptif dengan trend dunia baru ke depan. semoga kewajiban kita cepat ditunaikan. saya juga sudah rindu ingin pulang ke kampung halaman T.T

benar-benar ngepost curhat kali ini.. saya harap tidak banyak yang membacanya. i do just for healing

← Sebelumnya Tau Kapan Harus Berhenti Berikutnya → Massive Open Online Course (MOOC) 2021