Selamat Tahun Baru 2025!
Saya sangat senang karena tidak melewatkan tanggal 1 Januari sebagai momentum untuk merilis artikel pertama di tahun ini. Harapan saya, ini menjadi turning point untuk lebih produktif dan menghidupkan kembali kreativitas saya di tahun ini.
Belakangan ini, saya merasa jarang menunjukkan eksistensi di dunia luar. Selama tahun 2024, saya hanya menulis satu artikel di blog ini. Bahkan di media sosial pribadi, saya hanya membuat tiga IG story, satu postingan di feed IG, dan satu video pendek (VT) selama satu tahun ini. Padahal, banyak hal menyenangkan terjadi di tahun 2024, walaupun saya menyadari bahwa tidak semua hal memang perlu untuk dibagikan ke publik.
Namun, di tahun ini saya ingin melakukan perubahan. Saya ingin menghilangkan satu penyakit kronis yang selama ini membuat saya ‘merasa’ tidak produktif, yaitu procrastination.
Saya termasuk orang yang terbiasa membuat rencana detail sebelum memulai sesuatu. Saya cenderung menghitung kapan harus mulai, kapan harus selesai, dan memastikan semua dilakukan sesuai urutan. Tapi, di sinilah letak penyakitnya: saya sering terjebak dalam "menunggu momen yang sempurna" untuk mulai action. Padahal, momen sempurna itu sebenarnya tidak pernah ada. Jika tidak dimulai sekarang, sesuatu itu tidak akan pernah selesai, apalagi menjadi sempurna.
Merilis artikel ini tepat di hari pertama tahun 2025 semoga tidak diartikan bahwa saya masih menunggu momentum. Terkadang memang saya merasa ada energi tambahan ketika sesuatu dilakukan sesuai pola tertentu—misalnya, memulai sesuatu di awal bulan, awal minggu, atau awal tahun. Namun, saya sadar bahwa pola ini hanyalah persepsi saya. Momentum tidak perlu ditunggu, tapi diciptakan.
Deret Fibonacci, Phi, dan Fractal
Bicara soal pola tadi sebenarnya saya pernah berpikir bahwa mungkin di dunia ini sebenarnya tidak ada yang namanya kebetulan, seolah semua terjadi dengan pola tertentu sesuai skenario yang Tuhan buat.
Melihat fenomena yang terjadi di alam mengingatkan saya pada keunikan matematika yang sempat menarik perhatian saya. Bahwa beberapa hal di dunia ini terbentuk mengikuti pola tertentu.
Pertama adalah deret Fibonacci, sebuah urutan angka yang dimulai dari 0 dan 1 dimana angka selanjutnya adalah penjumlahan dari dua angka sebelumnya. Begini urutannya : 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, dan seterusnya.
Deretan ini ditemukan oleh Leonardo Fibonacci, matematikawan dari Pisa, Italia pada abad 13. Awalanya dia menemukan deret ini ketika mempelajari pertumbuhan populasi kelinci. Bahwa jumlah pasangan kelinci pada setiap generasi mengikuti pola yang sama dengan deret angka yang dikenal sebagai deret Fibonacci ini.
Keunikan ini tidak terjadi hanya pada kelinci, tapi juga pada jumlah kelopak bunga. Banyak kelopak bunga memiliki jumlah sesuai dengan angka Fibonacci ini. Misalnya, bunga lily memiliki 3 kelopak, bunga buttercup memiliki 5 kelopak, dan bunga daisy sering memiliki 13 atau 21 kelopak.

Deret Fibonacci sangat erat kaitannya dengan pola spiral. Jika kita membuat kotak-kotak dengan ukuran yang sesuai dengan bilangan Fibonacci dan kemudian menggambar busur lingkaran yang menghubungkan sudut-sudut diagonal kotak-kotak tersebut, kita akan mendapatkan spiral logaritmik yang indah. Spiral ini sering ditemukan di alam, seperti pada cangkang kerang dan galaksi spiral.

Jika kita membagi setiap angka dalam deret Fibonacci dengan angka sebelumnya, hasilnya akan mendekati sebuah bilangan konstan yang disebut Golden Rasio atau bilangan phi. Nilai rasionya kira-kira 1.618. Rasio ini sering dianggap sebagai salah satu proporsi paling estetis dan harmonis dalam alam tapi saya tidak akan mendetailkan bilangan phi ini di sini, silakan eksplor sendiri karna banyak hal unit terkait ini terutama pada tubuh kita sendiri.
Kedua, adalah nilai pi seperti yang kita tahu nilai pi diperoleh dari rasio antara keliling dan diameter lingkaran yaitu ~3,14. Ini bukan sekedar angka. Mirip dengan 1.618 dari phi. Nilai pi juga unik walaupun tidak terkait pola tapi banyak hal di dunia ini yang kita anggap tidak berpola ternyata punya harmoni yang bisa dikaitkan dengan nilai pi. Banyak juga rumus-rumus dalam fisika mengandung nilai pi karna banyak aspek di kehidupan kita terkait dengan bentuk lingkaran atau melibatkan gerak rotasi seperti orbit planet, gelombang suara, gelombang air,
Hal yang menarik dari pi bagi saya adalah ketika ada eksperimen yang dilakukan bagaiman nilai pi ini muncul dalam situasi yang tampak tidak beraturan tetapi menghasilkan harmoni matematis. Seperti Eksperimen Buffon’s Needle bagaimana jarum yang dijatuhkan secara acak pada permukaan yang memiliki garis garis sejajar ketika dihitung rasio jarum yang menyentuh garis terhadap jumlah lemparan akan selalu mendapatkan nilai yang mendekati pi. Ini sangat unik dan ada banyak lagi eksperimen lainnya terkait pi, menunjukkan seolah sebenarnya segala memang sudah berpola.
Ketiga, fractal. Kalau kita memperhatikan pola cabang pohon, aliran sungai yang bercabang, atau bentuk petir. Semuanya seolah memiliki pola yang tidak beraturan. Tapi ada ilmuwan matematika yang mempelajari hal ini yaitu Benoit Mandelbrot. Pola itu dia sebut fractal, dimana sebenarnya pola kompleks itu terbentuk oleh algoritma atau aturan matematis yang diterapkan secara berulang. Bentuk gugusan awan, jaringan pembuluh darah, struktur paru-paru pada dasarnya menerapkan prisip pengulangan. Bentuknya saja yang terlihat kompleks dan rumit tetapi sebenarnya ada keteraturan dan keselarasan yang tersembunyi.
Golden Year
Sebetulnya ini adalah bagian utama dalam artikel ini.
Setelah menyadari bahwa fenomena di alam memilki pola unik secara matematis. Apa yang terjadi di hidup saya juga memiliki polanya yang unik yang saya sebut dengan Golden Year.
Golden Year adalah tahun dimana hal-hal besar terjadi di hidup saya, hal-hal yang memorable buat saya. -dan dalam pengamatan saya ia memiliki pola atau ritme yang terjadi dua tahun sekali.
Entah percaya atau tidak dan mungkin ini adalah persepsi saya saja. Namun inilah yang terjadi di hidup saya. Tentu saja saya berharap hal-hal hebat terjadi setiap tahunnya di hidup saya bukan setiap dua tahun sekali.
Mungkin jika kamu memperhatikan hal hal hebat di hidupmu memilki polanya sendiri. Kalau bagi saya Golden Year ini terjadi setiap tahun genap.
Beginilah cerita unik saya :
- 2012 : Pertama Kali Ranking 1 di kelas (ini menjadi titik balik saya)
- 2014 : Juara 1 OSN Provinsi > Delegasi Kalteng di Olimpiade Sains Nasional di NTB (Pertama kali terbang keluar Kalimantan hha) + ketua PIKR + Ketua Kelas + Ranking 1 di kelas
- 2016 : Diterima di 3 Kampus > Kuliah di Semarang (Pertama kalinya saya tinggal di Jawa) > lolos ke program kelas internasional (IUP).
- 2018 : Menjadi Ketua KIFS + Asisten Dosen (Professor Geografi satu-satunya saat itu) + 2 Piala di lomba artikel Univ dan internasional + Publikasi Jurnal pertama + 3 Kali jadi Paper presenter di International Conference + Ketua KKL Internasional di Malaysia + Finalis lomba Artikel Nasional di UI
- 2020 : Juara 1 LKTI Nasional di Gontor + Jadi Narsum dan MC di beberapa Webinar kampus + Pertama kali mengenal dunia pertanian (ketika tinggal di desa saat Covid)
- 2022 : Diterima di Sinarmas Forestry > Ke Sumatera pertama kali (Jambi) > Menjadi Best Graduate dari Region Kalteng + Terpilih menjadi Ganis PH KLHK > Top 10 Peserta Diklat Ganish + Pertama kali menjelajahi wilayah Barat Kalteng (Dinas di Sukamara)
- 2024 : Pertama kali ke IKN + Sertifikasi Pilot Drone di Jogja + Pertama kali menjelajahi wilayah Utara Kalteng (Dinas di Buntok) + Tahun ini juga pertama kali melepas masa single after 25 year :D (walaupun unofficial)
Ya, saya tahu bahwa 2025 bukan tahun genap dan bukan berarti hal-hal hebat tidak akan terjadi di tahun ini, tapi ia adalah fondasi dari pencapaian di tahun-tahun mendatang. Saya percaya apa yang saya lakukan sekarang akan membuahkan hasil di waktu yang tepat.
Selain Golden Year ada juga Platinum Year yang terjadi setiap 4 tahun sekali. Hal hal yang lebih spektakuler terjadi di platinum year ini. Pola ini saya amati dari apa yang terjadi di tahun 2014, 2018, dan 2022 yang bisa dibilang lebih banyak pencapaiannya. Artinya platinum year ini akan terjadi di 2026. Semoga memang demikian.
Memang ini fakta yang aneh dan lucu. Tapi hal serupa juga terjadi pada alam kita. Seperti pengamatan saya pada dampak el nino terhadap karhutla yang terjadi tiap 4 tahun sekali. Yaitu 2015, 2019, dan 2023. Maka prediksi berikutnya mungkin saja tahun 2027 akan terjadi karhutla yang besar jika tidak diantisipasi sejak dini.
Kembali ke topik, apapun yang terjadi saya akan mempersiapkan 2025 ini dengan sebaik-sebaiknya. Tahun 2025 adalah halaman baru yang siap diisi dengan cerita-cerita berharga. Semoga tahun ini kita menjadi versi terbaik kita, tidak harus menunggu yang tadi disebut golden year itu.
Saya teringat dengan satu motto :
Start small, think big !