
Menulis cerita roman sebenarnya bukan keahlianku.
Benakku riuh karna banyak yang ingin kutulis.
Tapi malah stuck di bagian prolog pada artikel kali ini.
Aku pikir menulis pengalaman tidak butuh keahlian.
Ternyata aku salah.
Tapi izinkalah aku untuk menghidupkan kembali blog ini dengan tulisan
tentang seseorang yang kerap menjadi bagian dalam ceritaku
dan sekarang menjadi temanku bercerita.
Part 1/4 : Asumsi
"Jangan buang waktumu dengan mengejar kupu-kupu, tetapi tanamlah bunga, maka kupu-kupu akan datang dengan sendirinya"
Anonim
[2012]
Aku tidak bisa tidur malam itu, remaja berusia 13 tahun ini sedang overthinking.
Terbaring di tempat tidur, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
Pikiranku dipenuhi oleh banyak pertanyaan tentang gosip yang baru saja kudengar.
Katanya ada siswi di kelas yang punya interest denganku.
Hati kecil ku merasa senang sekaligus bimbang, jangan-jangan gosip hanyalah gosip.
(Mengingat-ingat lagi masa itu sebenarnya aku merasa geli)
Tapi apa yang terjadi ?
Aku gak pengen kelihatan ge-er, jadi aku bersikap cuek di kelas.
Bagaimana bisa aku merespon perasaan yang tidak kudengar langsung pengakuannya dari orang itu.
Aku tidak ingin terjebak dalam banyak asumsi, biarlah cerita ini berkembang dengan sendirinya.
Hari demi hari berlalu,
Entah kenapa, sepertinya aku mempunyai perasaan yang sama.
Kehadiranya di hidupku, tiba-tiba menyita perhatianku.
Cewek yang tadinya gak aku notice, sekarang terlihat istimewa di mataku.
Mata gak bisa berbohong, perasaan ini gak bisa disembunyikan.
Aku berusaha keras mengalihkan pandangan darinya, seolah gak pengen dia tau apa yg aku rasakan.
Sebenarnya aku ingin confess waktu itu, juga merespon perasaannya.
namun aku tidak memiliki keberanian untuk melakukannya.
Ada pertentangan antara hati dan pikiranku.
Karna aku tidak menemukan jawaban, apa yang sebenarnya dia suka dari aku ?
aku takut dianggap ge-er.
Juga aku merasa inferior :(
Aku merasa gak ada value di diriku.
Waktu itu aku masih wibu. Kolektor manga dan gemar menggambar-membuat manga versiku sendiri.
Soal ranking aku hanya di 20 besar (dan pernah anjlok parah), sedangkan dia ada di 5 besar.
Dia kelihatannya anak baik-baik, pinter, cantik, feminim.. (memenuhi tipe-ku) -sebenarnya banyak yang suka dia.
Sedang aku hanya unggul di luar kelas-aktif di ekskul pramuka.
Sering jadi perwakilan sekolah di kegiatan ini - ya.. cuma ini prestasi yang bisa kubanggakan waktu itu T.T
Kata pepatah, di atas langit masih ada langit.
aku hanyalah langit bawah dan dia adalah langit atas.
aku belum bisa menggapainya.
Tapi rasa bimbang dan inferior ini yang akhirnya menyelamatkanku
agar tidak terburu-buru merespon dan terjebak cinta monyet.
Karna ternyata hadir sosok orang ketiga dalam cerita ini.
'Cewek ini rupanya juga naksir dengan kakak kelas !'
Aku kira aku akan menjadi pemeran utama, ternyata aku hanya menjadi figuran dalam cerita ini.
Perasaan jatuh hati untuk pertama kalinya dan patah hati untuk pertama kalinya,
keduanya datang dari orang yang sama, ironi sekali.
Pada akhirnya sikapku yang tadinya cuek, semakin benar-benar cuek.
Mungkin dia tidak akan pernah tau, bahwa aku sempat ada interest padanya.
Lupakan soal patah hati ini..
Perasaanku sebenarnya belum sepenuhnya berubah.
Jika memang benar dia pernah ada interest padaku
Sebenarnya aku ingin berterima kasih.
karna sejak saat itu aku jadi menghargai diriku sendiri.
Sebagai bentuk menghargai perasaannya juga.
Aku ingin membuatkannya tidak menyesal pernah menyukaiku.
Aku akan mencari value di diriku..
Aku perlu menjadi seseorang yang lebih baik di matanya.
Pada akhirnya aku memutuskan untuk berubah, meninggalkan hobiku yang suka menghabiskan waktu dengan membaca manga itu.
Aku menjadi rajin belajar, mencoba menunjukkan padanya bahwa aku juga bisa berprestasi.
Mungkin aku berharap dengan menjadi lebih baik, aku bisa mendapatkan perhatiannya.
Aku mencoba memperbaiki diriku sendiri, agar bisa menjadi sosok yang pantas di hadapannya.

[2013]
Seiring waktu berjalan, aku mulai menikmati perubahan dalam hidup ku.
Aku berhasil mendapatkan ranking 1 di kelas 9.
Aku merasa lebih percaya diri dan termotivasi untuk mencapai hal-hal yang lebih baik.
Sebenarnya bayang-bayang tentang dia masih menghantui pikiranku,
tapi aku berusaha untuk fokus pada hal-hal yang bisa kujalani saat itu,
daripada terus-terusan terjebak dalam asumsi dan keraguan ini.
***
Rupanya 'taman' ini berhasil berbunga-dan kupu-kupu berdatangan..
saat aku ulang tahun yang ke-15 aku banyak mendapatkan kado dari teman-temanku.
Kebanyakan dari teman cewek. Tapi kado dari 'Dia' tetap yang paling spesial bagiku.
ya.. dia memberiku kado ulang tahun. Seolah aku masih menjadi orang penting buat dia.
Walaupun sudah satu tahun berjalan. (Apakah perasaannya belum berubah ?)
Ulang tahun kami di bulan yang sama, April.
Dia 14 April dan aku 04 April.
Artinya sepuluh hari lagi dia ulang tahun.
Selama menjelang sepuluh hari itu, aku terus kepikiran kado apa yang akan kuberikan untuk dia..
Karna aku suka ke toko buku, aku mencoba mencarinya di sana.
aku membeli sebuah novel detektif dan jam weker vintage.
tadinya ingin aku hadiahkan semuanya buat dia.
tapi aku berubah pikiran.
Aku masih Rais yang cuek itu, yang tidak ingin dia tau aku suka sama dia.
Jam weker itu akhirnya aku simpan sendiri.
Aku hanya memberikannya novel. Memberikan kesan minim effort seolah
kado ini diberikan sekedar balasan kado yang aku terima.
Berbanding terbalik dengan diriku.
Cewe ini lebih berani menunjukkan effortnya.
Dia pernah mengunjungi rumahku bersama teman-temannya.
Saat lebaran idul adha tahun 2012
Ketika belum ada satupun teman cowok yang berkunjung ke rumahku saat itu
-Yang datang justru rombongan cewek-cewek.
Ini awkward moment yang sulit kulupa,
karna aku sebenarnya malu sama orang tuaku :)
Namun cerita ini ternyata tidak berlangsung lama
aku tidak pernah mengira kalau setelah lulus SMP dia akan pindah ke luar kota.
Melanjutkan sekolahnya di sana dan tidak akan kembali lagi ke kota ini.
Pada akhirnya perasaan ini tidak pernah tersampaikan
cerita yang bahkan belum pernah dimulai ini, telah berakhir.
Dia tidak pernah tau bahwa sebenarnya aku juga suka sama dia.
Aku menyesal selama ini bersikap cuek padanya.
Manusia memang sering kali lupa menghargai sesuatu yang ada padanya
Hingga sesuatu itu tidak lagi ada, baru ia merasa sesuatu itu berharga.
Aku tidak tau apakah suatu saat nantinya akan bertemu lagi dengannya atau tidak.
Jika aku punya kesempatan kedua.
Aku ingin dia tau, betapa berharganya kehadiran dia di hidupku.
***