30 July 2020 · 10 menit baca

Make Your Business More Valuable

Make Your Business More Valuable

 “Bisnis itu tentang manusia”, begitu kata Park Saeroyi dalam serial K-Drama Itaewon Class. Terus terang saya bukanlah maniak Korea atau korban hallyu wave atau apalah itu, dan sebetulnya saya juga sudah jarang sekali menonton film apalagi drama korea semenjak kuliah. Namun belakangan seorang teman memaksa saya untuk menonton drama tersebut, gayanya begitu persuasifnya layaknya pelaku MLM yang sedang menawarkan bisnis :v. katanya ada nilai-nilai dan ilmu bisnis dalam drama tersebut dan saya akan menyesal jika tidak menontonya. Apa iyaa ?? hmm...

Drama tersebut menceritakan kisah tentang seorang pembisnis dengan tokoh utamanya yang bernama Park Saeroyi, dia merintis sebuah kedai makanan bernama Danbam di kawasan Itaweon, sebuah kawasan elit di Seoul dengan harga sewa/lahan yang sangat tinggi. Ia sukses membesarkan kedainya hingga menjadi perusahaan go publik (masuk pasar modal). Di drama ini kita akan belajar sedikit tentang marketing hingga investasi saham. Saya akui serial ini menarik karna tidak begitu banyak cerita yang didramatisir.

Awalnya saya enggan menonton drama ini karna ditayangkan 16 episode, saya tidak ingin membuang waktu (so hectic :v ). Tapi ketika melihat postingan mba Prita Ghozie (seorang konsultan keuangan) yang juga merekomendasikan drama tersebut akhirnya saya jadi penasaran.

baiklah.. tidak perlu banyak membahas tentang drama ini ya.. karna postingan kali ini saya ingin menulis tentang esensi bisnis..

seperti kutipan di awal bahwa bisnis adalah tentang manusia (bukan sekedar profit), saya ingat cerita Park Saeroyi yang didesak manajernya untuk memecat seorang chef di kedainya karna tidak begitu pandai memasak. Awalnya chef tersebut panik karna ia memang tidak ahli memasak. Namun alih-alih memecatnya, Park Saeroyi malah memberikan gaji 2x lipat kepada chef tersebut dan memintanya bekerja dua kali lebih keras hingga membuat chef tersebut terus melatih skillnya dan berhasil meningkatkan penjualan.

Kita belajar bahwa, bila berbisnis sekedar mengejar profit maka sewaktu-waktu kita dapat mengambil keputusan yang salah dan egois. Bukankah bisnis dibangun untuk menghidupkan perekonomian masyarakat termasuk orang-orang yang bekerja bersama kita ?

Bagaimana Islam memandang bisnis ?

Ada yang menarik ketika kita perhatikan Surah Al-Hujurat ayat 15 dalam Al-Qur’an. Allah berfirman :

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar

(QS Al-Hujurat :15)

Mengapa Allah menyebutkan berjihad dengan harta lebih dulu baru kemudian jiwa ? Sepertinya ada perintah yang tersirat dari Allah dalam ayat tersebut :)

Bila kita perhatikan bahwa jihad ekonomi, memberikan dampak signifikan dalam perjuangan dakwah di masa Rasulullah hingga sekarang. Kita bisa belajar dari kisah Siti Khadijah istri Rasulullah yang menyokong dakwah rasulullah dengan seluruh hartanya, begitu pula sahabat-sahabat lainnya seperti Abu Bakar, Usman bin Affan, dan Abdurahman bin Auf. Tentunya masih banyak lagi, namun para sahabat yang saya sebutkan itu begitu mansyur kisahnya. Bagaimana Abu Bakar membebaskan sahabat Bilal dari perbudakan, Usman yang membeli sumur dari seorang Yahudi dan mewakafkanya kepada kaum muslim, dan kisah mereka menyumbangkan hartanya untuk membiayai hijrah kaum musim dst. Kontribusi mereka melalui jihad ekonomi membuat Islam tidak bisa dipandang sebelah mata.

Tapi bukankah di akhirat kelak orang yang paling lama hisabnya adalah orang Kaya ?

Halaluhu hisab wa haraamuhu adzab, semakin banyak semakin panjang proses hisabnya apalagi harta itu berstatus haram maka adzabnya begitu besar. Begitulah argumennya.

Lantas apakah muslim tidak boleh kaya ? para ulama memiliki pandangan yang berbeda mengenai harta.

saya jadi teringat kisah imam Syafi’I. yang pada awalnya memilih tidak ingin menjadi orang kaya tersebab kedekatannya dengan guru-gurunya yang hidupnya sederhana. Tapi sudut pandang beliau tentang harta berubah, tatkala bertemu dengan imam Muhammad bin Hasan dari Iraq yang memiliki keilmuan tinggi dan kaya raya. Ketika itu Imam Muhammad menanyakan kepada Imam Syafii, apakah ia takjub dengan emas dan harta yang ia perlihatkan. Komentar Imam Syafi’I kurang baik akan hal itu. Lalu Imam Muhammad menanyakan kembali, bagaimana jika harta yang ia miliki diberikan saja kepada orang fasik, lalu Imam Syafi’I melarangnya, ia mengatakan bahwa lebih baik harta ini berada di tangan orang sholeh karna akan lebih bernilai manfaatnya. Sejak saat itu sudut pandang Imam Syafi’I tentang kepemilikan harta yang melimpah berubah.

Mahasiswa harapan masyarakat

Meeting Room, Kantor ACT Jateng

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke Kantor ACT Jawa Tengah dalam rangka silaturahmi bersama dengan rekan-rekan dari UKKI. Di sana kami membicarakan tentang strategi dakwah dan permasalahan umat kontemporer. Awalnya diskusi tentang keprihatinan kami kepada umat Islam yang terpolarisasi akibat situasi politik beberapa waktu lalu serta masalah perbedaan harakah  yang terus saja dipersoalkan umat ini dari dulu hingga sekarang. Kalau saja boleh berasumsi, bahwa hal tersebut terjadi bukan karna persoalan perbedaan ideologi melainkan kepentingan ekonomi yang kemudian dipolitisasi. Itu sekedar asumsi ketika kami berdiskusi yang bisa jadi adalah fakta.

Ketua ACT Jateng pada saat itu bercerita, pernah ada sekolompok masyarakat menolak kehadiran seorang ustad kondang karna persoalan ideologi, tapi ketika beliau (ketua ACT) mengisi ceramah di kelompok masyarakat itu dalam rangka penyerahan program waqaf dari ACT masyarakat tidak  menolak kehadiran beliau.

Kehadiran kelompok atau harakah baru di masyarakat menjadi kekhawatiran akan terserapnya kader-kader ataupun sponsor yang selama ini menyokong organisasi senior membuat kehadiran harakah itu direspon negatif. Begitulah asumsinya, sekali lagi ini hanya asumsi yang tidak bisa diklaim benar atau salahnya.

Memang menarik ketika membicarakan persoalan ekonomi. Sadarkah kita bahwa struktur ekonomi, politik, dan sosial yang diterapakan negara ini hanya memproduksi sekelompok kecil orang kaya dan sekelompok besar orang miskin. Perlunya memberikan kesempatan yang sama kepada masyarakat untuk mengakses informasi pasar, biaya, teknologi serta akses dalam mengambil keputusan agar dapat mengubah persoalan tersebut.. Ini adalah statement yang saya kutip dari Pak Chairul Tanjung dalam buku Adi Sasono berjudul “Menjadi Tuan di Negeri Sendiri”. Kapan-kapan kita akan membahas lebih mendalam tentang inequality dan ekonomi Islam sebagai solusi dalam persoalan ini.

Saya ingin mengutip tentang apa yang dikatakan oleh pendiri Dompet Dhuafa (saya lupa nama beliau), bahwa “permasalahan yang menjadi kelemahan besar di negeri ini adalah kemiskinan. Bila ingin negeri ini kuat, maka kuatkanlah orang-orang miskin-nya”. Maka kemudian beliau melalui Dompet Dhuafa membuat program beasiswa untuk membiayai pendidikan kaum dhuafa agar mereka memiliki kemampuan dan akses seperti yang dikatakan Pak Chairul Tanjung di atas tadi.

Lalu tentang mahasiswa dan bisnis... sebetulnya ini menjadi dilema ketika selama ini kita dididik untuk menjadi pekerja yang kompeten dan jarang sekali diajarkan tentang kecerdasan finansial. Sehingga cita-cita menjadi pembisnis bukan menjadi urutan pertama setelah kita telah selesai dengan pendidikan formal kita. Saya sendiri lebih merencanakan karir professional sebagai praktisi ketimbang berbisnis di usia muda. Memperkaya pengalaman professional dan skill sambil mengumpulkan modal baru kemudian berbisnis, begitulah idealismenya. Tapi pemikiran ini belakangan sedikit berubah, ketika seorang teman mengingatkan kepada saya, kenapa di Indonesia pelajar di tingkat perguruan tinggi disebut “Mahasiswa” tidak seperti negara-negara lainnya. Status mewah yang tidak semua masyarakat dapat menyandangnya. Maka idealnya seorang mahasiswa hadir untuk memberikan solusi, membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat bukan ikut menjadi beban bagi negara. Idealnya memang begitu,tapi perlu kita sadari menjadi pengusaha muda adalah pilihan yang ekstrim dan beresiko tapi bukan tidak mungkin untuk dilakukan.

Berbisnis karena pilihan

Shane, S. (2009). Why encouraging more people to become entrepreneurs is bad public policy

Satu hal yang perlu disadari ketika mulai masuk ke dunia bisnis. Pastikan dorongan menjadi pengusaha adalah karena “pilihan” bukan karena “tidak ada pilihan.” Sebuah studi yang dilakukan oleh Scott Shane (2009) pemenang penghargaan Global untuk riset kewirausahaan tahun 2009, ia mengatakan bahwa kebijakan pemerintah untuk mendorong dan mensubsidi tumbuhnya start-up adalah pilihan kebijakan yang buruk. Di Amerika sebagian besar perusahaan baru gagal dalam lima tahun pertama dan dalam studinya tersebut, ia merekomendasikan pembuat kebijakan lebih fokus untuk mengekspansi perusahaan mapan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi ketimbang menciptakan perusahaan baru yang tidak memiliki motivasi yang sama.

Apa alasan perusahaan baru mengalami kegagalan ? faktor pertama adalah pimpinan perusahaan. Disebutkan bahwa orang-orang  yang tidak memiliki pekerjaan lebih cenderung memulai bisnis daripada orang yang memiliki pekerjaan. Keberhasilan bisnis sangat ditentukan oleh orang yang tepat, yaitu orang-orang yang memang berorientasi untuk membuka lapangan pekerjaan dan mengejar pertumbuhan ekonomi. Faktor kedua adalah ekosistem yang buruk. Disebutkan bahwa di daerah kaya tingkat kewirausahaan menurun dan bisnis baru cenderung tumbuh di daerah miskin dan hal tersebut membuat perusahaan baru kurang produktif (logikanya mengenai daya beli masyarakat) kalau dalam istilah klisenya “lokasi menentukan prestasi” lihat bagaimana startup yang tumbuh di Sillicon Valley seperti Apple, Google, Facebook, dan masih banyak lagi mereka menjadi perusahaan besar. Kawasan tersebut memang memiliki keistimewaan yang dikenal dengan “startup culture”. Lantas apakah tidak boleh membangun startup ? tentu saja boleh, karna ada studi yang mengatakan apabila perusahaan rintisan mampu survive dalam 3 sampai 5 tahun pertamanya dan bertumbuh menjadi bisnis besar maka perusahaan seperti ini mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan lapangan pekerjaan.

Ada kisah pengusaha mesir yang begitu fenomenal, yang dapat menjadi inspirasi kita semua. Simak video berikut.

https://youtu.be/nvrVR_xk1yQ

Cashflow Quadrant

Robert T. Kiyosaki (2016) : Rich Dad’s Cashflow Quadrant

Bisnis bukanlah satu-satunya yang perlu dikejar dan ini bukan goal terakhir. Saya  pernah membaca buku Robert T. Kiyosaki berjudul “Cashflow Quadrant”. Dia membagi 4 tipe orang dalam dunia bisnis. Kuadran kiri terdiri atas tipe E (Employee/pegawai) dan tipe S (Self-Employee / pekerja lepas / bisnis kecil (small)) sedangkan kuadran kanan teridiri atas tipe B (Business Owner) dan tipe I (investor). Dalam bicara tentang kebebasan finansial sudah barang tentu mereka yang berada di kuadran kanan (B dan I) lebih mungkin meraihnya. Tipe B adalah dimana orang bekerja untuk dia dan menjalankan usaha by system. Sedangkan tipe I adalah dimana ketika uang yang bekerja untuknya.

Saya tertarik ketika memperhatikan orang-orang terkaya di Dunia atau di Indonesia mereka memiliki kesamaan. Apa itu ? yakni mereka adalah tipe I (investor) walaupun mereka sendiri dikenal memiliki perusahaan besar. Katakanlah Bill Gates, walaupun posisi orang terkaya saat ini diambil alih oleh Jeff Bezos (CEO Amazon) apakah ia menjadi orang terkaya di dunia (waktu itu) karna bisnisnya di Microsoft, lalu bagaimana dengan Hartono besaudara ? apakah mereka menjadi orang terkaya di Indonesia karena PT Djarum-nya ? fakta menariknya adalah tidak. Apakah Microsoft merupakan brand termahal di dunia ? setau saya posisi itu dimiliki Apple (gak tau kalo sekarang). Apakah Djarum perusahaan tembakau paling profit di Indonesia ? yang saya tahu juga posisi itu dimiliki Gudang Garam. Lalu mengapa bukan pemilik Gudang Garam yang menjadi orang terkaya di Indonesia ? sebab Hartono bersaudara tidak bermain di bisnis saja. Tetapi mereka adalah investor. Mereka bahkan memiliki saham yang besar di BCA (Bank). Begitu juga dengan Bill Gates, ia pernah menjadi orang terkaya di dunia bukan karena MS melainkan karna ia adalah investor. Bahkan dulu pernah ia membeli saham Apple ketika perusahaan itu hampir Collapse walaupun Apple adalah rivalnya (sebab ada kebijakan di Amerika agar tidak terjadi monopoli).  

Tentu fakta-fakta di atas membuka mata kita. Agar membuat setting goal yang benar dan lebih visioner. So, setelah saya uraikan panjang lebar tentang bisnis. Apak rencana kalian ke depan ?

Saya pernah mendengar quotes kurang lebih bunyinya begini. Jika kalian adalah seorang pegawai, sekeras-kerasnya kalian bekerja yang akan menikmati hasilnya adalah bos kalian. Beda dengan pembisnis. Walaupun usahanya masih kecil, tapi ia adalah bos di sana.. menjadi bos bukan soal posisi anda adalah CEO atau pimpinan, tapi dalam dunia bisnis menjadi bos adalah ketika kalian memiliki saham dalam bisnis tersebut walaupun posisi mu bukan pimpinan di perusahaan itu. Mulailah ubah mindset kita, bahwa sekarang adalah era-nya untuk berkolaborasi.

Thanks buat kalian yang udah baca sampai bagian akhir ini. Please, correct me if i'm wrong.

[Artikel ini disajikan dengan bahasa populis, harap maklum kalo kamu menemukan banyak diksi yang tidak baku]

Referensi :

Airinda, Novida D. (2020) Sudut Pandang. Zakato edisi Juli 2020

Kiyosaki, R. T. (2016). Cashflow Quadrant: Rich dad poor dad. Gramedia.

Sasono, A. (2013) Menjadi tuan di negeri sendiri: pergulatan kerakyatan, kemartabatan, dan kemandirian. Grafindo Books Media.

Shane, S. (2009) ‘Why encouraging more people to become entrepreneurs is bad public policy’, Small business economics. Springer, 33(2), pp. 141–149.

← Sebelumnya GIS Story #1: Roger Tomlinson, The Father of GIS Berikutnya → Apa yang Membuatmu Berbeda
Komentar
via GitHub