
[Di Balik Layar Para Fasilitator Dakwah #2 : Seminar Pra Nikah]
Tempo hari, aku mulai beramanah di UKKI UNNES.
di aras ini medan dakwah lebih luas, fungsio-nya makin heterogen.
ketika terjadi bencana di Palu dan Donggala,
sebuah lembaga zakat (DT Peduli) menawarkan UKKI untuk menggelar konser amal bersama Anandisa dengan konsep Seminar Pra Nikah (SPN)
lalu aku diamanahin jadi ketua panitia nya (what the!!)
…
ya gimana ya.. aku juga berat menerimanya, ntar dilabelin apa sama org"
tapi ini ujian dari profesionalitas kader, jadi aku terima tantanganya..
ketika publikasi mulai tersebar..
lagi2 muncul polemik.. acara ini dituduh mempropogandakan nikah muda :v
"kenapa gak ngadain kajian yang lebih berbobot (fiqh, sejarah, dsb.) ?" begitulah polemiknya..
pikirku-bukannya dulu di fakultas aku ngadain kajian edukatif juga diprotes wkwk
(sebetulnya SPN juga mendidik, pemerintah juga mengadopsinya untuk program sertifikasi nikah :v)
Belajar dari pengalaman, bahwa kita harus fokus pada apa yang kita tuju
maka agitasi itu aku abaikan
ternyata di luar dugaan dan target..
baru hari pertama open registration, peserta yang mendaftar sudah melebihi 2 ribu org dlm kurun waktu krg dari 24 jam
melihat kapasitas gedung yang terbatas. pendaftaran akhirnya ditutup ketika mencapai angka 5.000
MasyaAllah animo-nya luar biasa.
Ada banyak hikmah yang bisa dipetik..
- Pertama, tujuan kita menjadi fasilitator dakwah adalah untuk mencari ridho Allah, bukan sebatas mengejar sebanyak2nya jamaah
- Kedua, kita harus terbuka untuk menerima masukan orang, karna dakwah bukan miliki kita sendiri. sikap menutup diri (eksklusif/close minded) ini yang memicu umat terpolarisasi.
- Ketiga, tidak tegas dengan diri sendiri adalah sikap yg kurang bijak.. karna orang lainpun juga bisa berubah pikiran (menganti argumennya).
kalo kamu sudah yakin apa yang kamu jalani benar, kamu harus konsisten..
salah satu parameter kebenaran dalam filsafat islam (ilmu Kalam) adalah Sukunun Nafs (Ketenangan Jiwa) - Keempat, sebetulnya gak akan terjadi polemik kalau kita menjalin komunikasi yang baik.
bisa jadi ide2 yang diangkat belum terkomunikasikan sehingga muncul perbedaan pendapat
ada pesan nih dari guru Ngaji Filsafat MJS Yogja, Fahruddin Faiz (Dosen Fakultas Ushuluddin UIN-SUKA) :
"Orang yang masih ribut dengan kebenaran-nya, biasanya dia masih belum terlalu yakin dengan kebenaran-nya.
Fahruddin Faiz (Ngaji Filsafat-Leonardo Da Vinci)
Orang yang masih sibuk ingin menunjukkan salahnya orang lain, biasanya itu dilakukan dalam rangka menegaskan benarnya dirinya.
Kalo dia masih butuh ingin menegaskan benarnya dirinya, sebenarnya dia belum terlalu yakin dengan kebenarannya sendiri." (jleb..:v)
Klo jiwa kamu belum tenang dan masih mencari-cari justifikasi kebenaran. Berarti kamu belum nyampe terminal kebenaran.
NOTE: saya lebih suka disebut sebagai Fasilitator Dakwah (secara, w gk sesuci itu kalo melabeli diri sbg Aktivis Dakwah)